RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Disusun guna memenuhi tugas Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah: Pengembangan Pembelajaran SKI MTs/MA
Dosen Pengampu: Rodianto, M.Pd
Disusun Oleh:
Dwi wulandari (2021116038)
Kelas F
JURUSAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2019
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Satuan Pendidikan : MTs
Mata Pelajaran : SKI (Sejarah Kebudayaan Islam)
Kelas/Semester : IX/Ganjil
Materi Pokok : Sejarah Kerajaan Islam di Jawa, Sumatera dan Sulawesi
Tahun Pelajaran : 2018/2019
Alokasi Waktu : 1x pertemuan (45 menit)
|
KI 1 |
: |
Menghargai dan Menghayati ajaran agama yang dianutnya |
|
KI 2 |
: |
Menghargai dan menghayati prilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, (Toleransi dan Gotong royong), santun, percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya. |
|
KI 3 |
: |
Memahami pengetahuan (factual, konseptual, dan procedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata. |
|
KI 4 |
: |
Mencoba, mengelola dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat), ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, mengarang) sesuai dengan yang dipelajari disekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori. |
A. Kompetensi Inti
B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)
|
KOMPETENSI DASAR |
INDIKATOR |
|
1.1 Menghayati bahwa berdakwah adalah kewajiban setiap muslim |
1.1.1 Menyadari bahwa berdakwah adalah kewajiban setiap muslim. 1.1.2 Menunjukan keyakinan bahwa nilai-nilai perjuangan yang dicontohkan oleh juru dakwah di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. |
|
2.1 Memiliki sikap istiqamah seperti dicontohkan oleh para tokoh penyebar Islam di Indonesia.
|
2.1.1 Meneladani sikap istiqamah seperti yang dicontohkan oleh para tokoh penyebar Islam di Indonesia. 2.1.2 Menunjukan sikap istiqomah seperti yang dicontohkan oleh para tokoh penyebar Islam di Indonesia ketika belajar dalam kehidupan sehari-hari. |
|
3.1 Memahami sejarah kerajaan Islam di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi.
|
3.1.1 Mengklasifikasikan sejarah kerajaan Islam di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. 3.1.2 Menjelaskan sejarah kerajaan Islam di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. 3.1.3 Menganalisis sejarah kerajaan Islam di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi.
|
|
4.1 Menyajikan data tentang sejarah kerajaan Islam di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi |
4.1.1 Mempresentasikan sejarah kerajaan Islam di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. 4.1.2 Menceritakan sejarah kerajaan Islam di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. 4.1.3 Mendemonstrasikan sejarah kerajaan Islam di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. |
C. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Agar siswa dapat menyadari bahwa berdakwah adalah kewajiban setiap muslim.
2. Agar siswa dapat meneladani sikap istiqamah seperti yang dicontohkan oleh para tokoh penyebar Islam di Indonesia.
3. Agar siswa dapat mengklasifikasikan sejarah kerajaan Islam di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi.
4. Agar siswa dapat menceritakan sejarah kerajaan Islam di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi.
D. MATERI PEMBELAJARAN
1. Kerajaan Islam di Jawa
a.Kesultanan Demak (1500 - 1550)
Kesultanan Demak atau Kesultanan Demak Bintara adalah kesultananIslam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1478. Kesultanan ini sebelumnya merupakan keadipatian (kadipaten) vazal dari kerajaan Majapahit, dan tercatat menjadi pelopor penyebaran agama Islam di pulau Jawa dan Indonesia pada umumnya. Kesultanan Demak tidak berumur panjang dan segera mengalami kemunduran karena terjadi perebutan kekuasaan di antara kerabat kerajaan. Pada tahun 1568, kekuasaan Kesultanan Demak beralih ke Kesultanan Pajang yang didirikan oleh Jaka Tingkir. Salah satu peninggalan bersejarah Kesultanan Demak ialah Mesjid Agung Demak, yang diperkirakan didirikan oleh para Walisongo. Lokasi ibukota Kesultanan Demak, yang pada masa itu masih dapat dilayari dari laut dan dinamakan Bintara, saat ini telah menjadi kota Demak di Jawa Tengah.
1. Cikal-bakal Demak
Pada saat kerajaan Majapahit mengalami masa surut, secara praktis wilayah-wilayah kekuasaannya mulai memisahkan diri. Wilayah-wilayah yang terbagi menjadi kadipaten-kadipaten tersebut saling serang, saling mengklaim sebagai pewaris tahta Majapahit. Pada masa itu arus kekuasaan mengerucut pada dua adipati, yaitu Raden Patah dan Ki Ageng Pengging. Sementara Raden Patah mendapat dukungan dari Walisongo, Ki Ageng Pengging mendapat dukungan dari Syech Siti Jenar.
Demak di bawah Pati Unus adalah Demak yang berwawasan Nusantara. Visi besarnya adalah menjadikan Demak sebagai kesultanan maritim yang besar. Pada masa kepemimpinannya, Demak merasa terancam dengan pendudukan Portugis di Malaka. Dengan adanya Portugis di Malaka, kehancuran pelabuhan-pelabuhan Nusantara tinggal menunggu waktu.
3. Demak di bawah Sultan Trenggono
Sultan Trenggono berjasa atas penyebaran Islam di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di bawah Sultan Trenggono, Demak mulai menguasai daerah-daerah Jawa lainnya seperti merebut Sunda Kelapa dari Pajajaranserta menghalau tentara Portugis yang akan mendarat di sana (1527), Tuban (1527), Madiun (1529), Surabaya dan Pasuruan (1527), Malang (1545), dan Blambangan, kerajaan Hindu terakhir di ujung timur pulau Jawa (1527, 1546). Panglima perang Demak waktu itu adalah Fatahillah, pemuda asal Pasai (Sumatera), yang juga menjadi menantu Sultan Trenggono. Sultan Trenggono meninggal pada tahun 1546 dalam sebuah pertempuran menaklukkan Pasuruan, dan kemudian digantikan oleh Sunan Prawoto.
4. Peran Wali Songo
Pada zaman Kesultanan Demak, majelis ulama Wali Songo memiliki peran penting, bahkan ikut mendirikan kerajaan tersebut. Majelis ini bersidang secara rutin selama periode tertentu dan ikut menentukan kebijakan politik Demak.
Suksesi ke tangan Sunan Prawoto tidak berlangsung mulus. Ia ditentang oleh adik Sultan Trenggono, yaitu Pangeran Suksesi ke tangan Sunan Prawoto tidak berlangsung mulus Sekar Seda Lepen. Pangeran Sekar Seda Lepen akhirnya terbunuh. Pada tahun 1561 Sunan Prawoto beserta keluarganya "dihabisi" oleh suruhan Arya Penangsang, putera Pangeran Sekar Seda Lepen. Arya Penangsang kemudian menjadi penguasa tahta Demak. Suruhan Arya Penangsang juga membunuh Pangeran Hadiri adipati Jepara, dan hal ini menyebabkan banyak adipati memusuhi Arya Penangsang.
Arya Penangsang akhirnya berhasil dibunuh dalam peperangan oleh pasukan Joko Tingkir, menantu Sunan Prawoto. Joko Tingkir memindahkan istana Demak ke Pajang, dan di sana ia mendirikan Kesultanan Pajang.
b. Kesultanan Banten (1524 - 1813)
Kesultanan Banten berawal ketika Kesultanan Demak memperluas pengaruhnya ke daerah barat. Pada tahun 1524/1525, Sunan Gunung Jati bersama pasukan Demak merebut pelabuhan Banten dari kerajaan Sunda, dan mendirikan Kesultanan Banten yang berafiliasi ke Demak. Menurut sumber Portugis, sebelumnya Banten merupakan salah satu pelabuhan Kerajaan Sunda selain pelabuhan Pontang, Cigede, Tamgara (Tangerang), Sunda Kalapa dan Cimanuk.
1. Sejarah
Anak dari Sunan Gunung Jati (Hasanudin) menikah dengan seorang putri dari Sultan Trenggono dan melahirkan dua orang anak. Anak yang pertama bernama Maulana Yusuf. Sedangkan anak kedua menikah dengan anak dari Ratu Kali Nyamat dan menjadi Penguasa Jepara.
Terjadi perebutan kekuasaan setelah Maulana Yusuf wafat (1570). Pangeran Jepara merasa berkuasa atas Kerajaan Banten daripada anak Maulana Yusuf yang bernama Maulana Muhammad karena Maulana Muhammad masih terlalu muda. Akhirnya Kerajaan Jepara menyerang Kerajaan Banten. Perang ini dimenangkan oleh Kerajaan Banten karena dibantu oleh para ulama.
2. Puncak kejayaan
Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Abu Fatah Abdulfatah atau lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Saat itu Pelabuhan Banten telah menjadi pelabuhan internasional sehingga perekonomian Banten maju pesat. Wilayah kekuasaannya meliputi sisa kerajaan Sunda yang tidak direbut kesultanan Mataram dan serta wilayah yang sekarang menjadi provinsi Lampung. Piagam Bojong menunjukkan bahwa tahun 1500 hingga 1800 Masehi Lampung dikuasai oleh kesultanan Banten.
Pada jaman pemerintahan Sultan Haji, tepatnya pada 12 Maret1682, wilayah Lampung diserahkan kepada VOC. seperti tertera dalam surat Sultan Haji kepada Mayor Issac de Saint Martin, Admiral kapal VOC di Batavia yang sedang berlabuh di Banten. Surat itu kemudian dikuatkan dengan surat perjanjian tanggal 22 Agustus 1682 yang membuat VOC memperoleh hak monopoli perdagangan lada di Lampung.
Kesultanan Banten dihapuskan tahun 1813 oleh pemerintah kolonial Inggris. Pada tahun itu, Sultan Muhamad Syafiuddin dilucuti dan dipaksa turun takhta oleh Thomas Stamford Raffles. Tragedi ini menjadi klimaks dari penghancuran Surasowan oleh Gubernur-Jenderal Belanda, Herman William Daendels tahun 1808.
5. Nama-nama Kesultanan Banten
b. Sultan Maulana Hasanudin1552 - 1570
c. Maulana Yusuf1570 - 1580
d. Maulana Muhammad1585 - 1590
e. Sultan Abdul Mufahir Mahmud Abdul Kadir1605 - 1640 (dianugerahi gelar tersebut pada tahun 1048 H (1638) oleh Syarif Zaid, Syarif Makkah saat itu.)
f. Sultan Abu al-Ma'ali Ahmad1640 - 1650
g. Sultan Ageng Tirtayasa1651-1680
h. Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji) 1683 - 1687
i. Abdul Fadhl / Sultan Yahya (1687-1690)
j. Abul Mahasin Zainul Abidin (1690-1733)
k. Muhammad Syifa Zainul Ar / Sultan Arifin (1750-1752)
l. Muhammad Wasi Zainifin (1733-1750)
m. Syarifuddin Artu Wakilul Alimin (1752-1753)
n. Muhammad Arif Zainul Asyikin (1753-1773)
o. Abul Mafakir Muhammad Aliyuddin (1773-1799)
p. Muhyiddin Zainush Sholihin (1799-1801)
q. Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802)
r. Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803)
s. Aliyuddin II (1803-1808)
t. Wakil Pangeran Suramanggala (1808-1809)
u. Muhammad Syafiuddin (1809-1813)
v. Muhammad Rafiuddin (1813-1820)
c. Kesultanan Mataram (1586 - 1755)
Kesultanan Mataram adalah kerajaan Islam di Jawa yang didirikan oleh Sutawijaya, keturunan dari Ki Ageng Pemanahan yang mendapat hadiah sebidang tanah dari raja Pajang, Hadiwijaya, atas jasanya. Kerajaan Mataram pada masa keemasannya dapat menyatukan tanah Jawa dan sekitarnya termasuk Madura serta meninggalkan beberapa jejak sejarah yang dapat dilihat hingga kini, seperti wilayah Matraman di Jakarta dan sistem persawahan di Karawang.
1. Masa awal
Sutawijaya naik tahta setelah ia merebut wilayah Pajang sepeninggal Hadiwijaya dengan gelar Panembahan Senopati. Pada saat itu wilayahnya hanya di sekitar Jawa Tengah saat ini, mewarisi wilayah Kerajaan Pajang. Pusat pemerintahan berada di Mentaok, wilayah yang terletak kira-kira di timur Kota Yogyakarta dan selatan Bandar Udara Adisucipto sekarang. Lokasi keraton (tempat kedudukan raja) pada masa awal terletak di Banguntapan, kemudian dipindah ke Kotagede. Sesudah ia meninggal (dimakamkan di Kotagede) kekuasaan diteruskan putranya Mas Jolang yang setelah naik tahta bergelar Prabu Hanyokrowati.
Pemerintahan Prabu Hanyokrowati tidak berlangsung lama karena beliau wafat karena kecelakaan saat sedang berburu di hutan Krapyak. Karena itu ia juga disebut Susuhunan Seda Krapyak atau Panembahan Seda Krapyak yang artinya Raja (yang) wafat (di) Krapyak. Setelah itu tahta beralih sebentar ke tangan putra keempat Mas Jolang yang bergelar Adipati Martoputro. Ternyata Adipati Martoputro menderita penyakit syaraf sehingga tahta beralih ke putra sulung Mas Jolang yang bernama Mas Rangsang.
Sesudah naik tahta Mas Rangsang bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo atau lebih dikenal dengan sebutan Sultan Agung. Pada masanya Mataram berekspansi untuk mencari pengaruh di Jawa. Wilayah Mataram mencakup Pulau Jawa dan Madura (kira-kira gabungan Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur sekarang). Ia memindahkan lokasi kraton ke Kerta (Jw. "kertå", maka muncul sebutan pula "Mataram Kerta"). Akibat terjadi gesekan dalam penguasaan perdagangan antara Mataram dengan VOC yang berpusat di Batavia, Mataram lalu berkoalisi dengan Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon dan terlibat dalam beberapa peperangan antara Mataram melawan VOC. Setelah wafat (dimakamkan di Imogiri), ia digantikan oleh putranya yang bergelar Amangkurat (Amangkurat I).
Amangkurat I memindahkan lokasi keraton ke Pleret (1647), tidak jauh dari Kerta. Selain itu, ia tidak lagi menggunakan gelar sultan, melainkan "sunan" (dari "Susuhunan" atau "Yang Dipertuan"). Pemerintahan Amangkurat I kurang stabil karena banyak ketidakpuasan dan pemberontakan. Pada masanya, terjadi pemberontakan besar yang dipimpin oleh Trunajaya dan memaksa Amangkurat bersekutu dengan VOC. Ia wafat di Tegalarum (1677) ketika mengungsi sehingga dijuluki Sunan Tegalarum. Penggantinya, Amangkurat II (Amangkurat Amral), sangat patuh pada VOC sehingga kalangan istana banyak yang tidak puas dan pemberontakan terus terjadi. Pada masanya, kraton dipindahkan lagi ke Kartasura (1680), sekitar 5km sebelah barat Pajang karena kraton yang lama dianggap telah tercemar.
Pengganti Amangkurat II berturut-turut adalah Amangkurat III (1703-1708), Pakubuwana I (1704-1719), Amangkurat IV (1719-1726), Pakubuwana II (1726-1749). VOC tidak menyukai Amangkurat III karena menentang VOC sehingga VOC mengangkat Pakubuwana I (Puger) sebagai raja. Akibatnya Mataram memiliki dua raja dan ini menyebabkan perpecahan internal. Amangkurat III memberontak dan menjadi "king in exile" hingga tertangkap di Batavia lalu dibuang ke Ceylon.
Kekacauan politik baru dapat diselesaikan pada masa Pakubuwana III setelah pembagian wilayah Mataram menjadi dua yaitu Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta tanggal 13 Februari1755. Pembagian wilayah ini tertuang dalam Perjanjian Giyanti (nama diambil dari lokasi penandatanganan, di sebelah timur kota Karanganyar, Jawa Tengah). Berakhirlah era Mataram sebagai satu kesatuan politik dan wilayah. Walaupun demikian sebagian masyarakat Jawa beranggapan bahwa Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta adalah "ahli waris" dari Kesultanan Mataram.
|
: |
Ki Ageng Pemanahan dihadiahi wilayah Mataram oleh Sultan Pajang Adiwijaya atas jasanya mengalahkan Arya Penangsang. |
|
|
: |
Ki Ageng Pemanahan membangun istananya di Pasargede atau Kotagede. |
|
|
: |
Ki Ageng Pemanahan meninggal. Sultan Pajang mengangkat Sutawijaya, putra Ki Ageng Pemanahan sebagai penguasa baru di Mataram, bergelar "Ngabehi Loring Pasar" (karena rumahnya di utara pasar). |
|
|
: |
Pasukan Kesultanan Pajang yang akan menyerbu Mataram porak-poranda diterjang badai letusan Gunung Merapi. Sutawijaya dan pasukannya selamat. |
|
|
: |
Mataram menjadi kerajaan dengan Sutawijaya sebagai Sultan, bergelar "Senapati Ingalaga Sayidin Panatagama" artinya PanglimaPerang dan Ulama Pengatur Kehidupan Beragama. |
|
|
: |
Panembahan Senopati wafat dan digantikan putranya, Mas Jolang yang bergelar Panembahan Hanyakrawati dan kemudian dikenal sebagai "Panembahan Seda ing Krapyak" karena wafat saat berburu (jawa: krapyak). |
|
|
: |
Mas Jolang wafat, kemudian digantikan oleh putranya Pangeran Aryo Martoputro. Karena sering sakit, kemudian digantikan oleh kakaknya Raden Mas Rangsang. Gelar pertama yang digunakan adalah Panembahan Hanyakrakusuma atau "Prabu Pandita Hanyakrakusuma". Setelah Menaklukkan Madura beliau menggunakan gelar "Susuhunan Hanyakrakusuma". Terakhir setelah 1640-an beliau menggunakan gelar bergelar "Sultan Agung Senapati Ingalaga Abdurrahman" |
|
|
: |
Sultan Agung wafat dan digantikan putranya Susuhunan Amangkurat I. |
|
|
: |
Pertentangan dan perpecahan dalam keluarga kerajaan Mataram, yang dimanfaatkan oleh VOC. |
|
|
: |
Trunajaya merangsek menuju Ibukota Pleret. Susuhunan Amangkurat I mangkat. Putra Mahkota dilantik menjadi Susuhunan Amangkurat II di pengasingan. Pangeran Puger yang diserahi tanggung jawab atas ibukota Pleret mulai memerintah dengan gelar Susuhunan Ing Ngalaga. |
2. Kerajaan Islam di Sumatera
Dalam catatan sejarah, ada kerajaan Islam di Sumatera antara lain:
Kesultanan Samudera Pasai, juga dikenal dengan Samudera, Pasai, atau Samudera Darussalam, adalah kerajaanIslam yang terletak di pesisir timur Laut Aceh.Sumatera, kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe, Aceh Utara sekarang. Kerajaan ini merupakan keraaan Islam pertama di Indonesia. Penguasa kerajaan Samudera Pasai terdiri atas dua dinasti, yaitu Dinasti Meurah Khair dan Meurah Silu sebagaimana dalam penjelasan berikut.
1. Dinasti Meurah Khair
Pendiri dan raja pertama kerajaan Samudera Pasai adalah Murah Khair yang bergelar Maharaja Mahmud Syah. Pengganti beliau adalah Maharaja Mansyur Syah. Kemudian dilanjutkan oleh Maharaja Giyasuddin Syah. Raja kerajaan Samudera Pasai berikutnya adalah Meurah Noe yang bergelar Maharaja Nuruddin, beliau juga dikenal dengan Tengku Samudera atau Sultan Nazimuddin al Kamil, beliau tidak dikaruniai keturunan sehingga ketika ia wafat, kerajaan samudra pasai mengalami kekacauan karena perebutan kekuasaan.
2. Dinasti Meurah Silu
Dinasti ini didirikan oleh Meurah Silu yang bergelar Malik al-Saleh. Ia merupakan keturunan Raja Perlak yang mendirikan kedua dinasti di Kerajaan Samudera Pasai.
a. Nama-nama rajayang memerintah pada Kerajaan Samudera Pasai, antara lain:
1. Malik as Saleh(1285-1297 M)
Pada masa Malik as Saleh sistem pemerintahan kerajaan dan angkatan perang laut telah terstruktur rapi, serta mengalami kemakmuran terutama setelah pelabuhan Pasai dibuka. Menjadikan hubungan kerajaan Samudera Pasai dan Perlak berjalan harmonis. Terbukti Meurah Silu menikah dengan puteri raja Perlak yang bernama Ganggang Sari. Kondisi demikian semakin memperkuat pengaruh kerajaan Samudera Pasai di Pantai Timur Aceh dan berkembang menjadi kerajaan perdagangan yang kuat di Selat Malaka.
2. Muhammad Malik Zahir (1297-1326M)
3. Mahmud Zahir (1326-1345M)
4. Mansur Malik Zahir (1345-1346M)
5. Achmad Malik Zahir (1346-1383M)
6. Zainal Abidin (1383-1403M)
Masa pemerintahannya meliputi daerah Kedah di Semenanjung Malaya, beliau juga aktif dalam menyebarkan Islam ke pulau Jawa dan Sulawesi dengan mengrim ahli dakwah seperti Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishak.
3. Kerajaan Islam di Sulawesi
a. Kesultanan Gowa dan Tallo
Kerajaan Gowa dan Tallo merupakan kerajaan yang terletak di Sulawesi Selatan dan memiliki hubungan baik.
Pada awalnya di daerah Gowa terdapat sembilan komunitas, yang dikenal dengan nama Bate Salapang (Sembilan Bendera), yang kemudian menjadi pusat kerajaan Gowa: Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data, Agangjene, Saumata, Bissei, Sero dan Kalili. Melalui berbagai cara, baik damai maupun paksaan, komunitas lainnya bergabung untuk membentuk Kerajaan Gowa. Masing-masing kerajaan tersebut membentuk persekutuan sesuai dengan pilihan masing-masing. Salah satunya adalah kerajaan Gowa dan Tallo membentuk persekutuan pada tahun 1528, sehingga melahirkan suatu kerajaan yang lebih dikenal dengan sebutan kerajaan Makasar. Nama Makasar sebenarnya adalah ibukota dari kerajaan Gowa dan sekarang masih digunakan sebagai nama ibukota propinsi Sulawesi Selatan.
1. Letak geografis
Secara geografis daerah Sulawesi Selatan memiliki posisi yang sangat strategis, karena berada di jalur pelayaran (perdagangan Nusantara). Bahkan daerah Makasar menjadi pusat persinggahan para pedagang baik yang berasal dari Indonesia bagian Timur maupun yang berasal dari Indonesia bagian Barat. Dengan posisi strategis tersebut maka Kerajaan Gowa dan Tallo berkembang menjadi kerajaan besar dan berkuasa atas jalur perdagangan Nusantara.
2. Faktor-faktor penyebab Kerajaan Gowa Tallo berkembang menjadi pusat perdagangan, sebagai berikut:
a. Letaknya strategis yaitu sebagai penghubung pelayaran Malaka dan Jawa ke Maluku.
b. Letaknya di muara sungai, sehingga lalu lintas perdagangan antar daerah pedalaman berjalan dengan baik.
c. Di depan pelabuhan terdapat gugusan pulau kecil yang berguna untuk menahan gelombang dan angin, sehingga keamanan berlabuh di pelabuhan ini terjamin.
d. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis mendorong para pedagang mencari daerah atau pelabuhan yang menjual belikan rempah-rempah.
e. Halauan politik Mataram sebagai kerajaan agraris ternyata kurang memperhatikan pemngembangan pelabuhan-pelabuhan di Jawa. Akibatnya dapat diambil alih oleh Makasar.
f. Kemahiran penduduk Makasar dalam bidang pelayaran dan pembuatan kapal besar jenis Phinisi dan Lambo.
3. Pendiri Gowa dan Tallo dan raja terkenalnya
a. Raja Tumanurunga (1300+), merupakan Raja pertama sekaligus pendiri dari Kerajaan Gowa dan Tallo (Kerajaan Makassar)dan yang terakhir adalah Andi Ijo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aidudin (1956-1960) merupakan Raja Gowa terakhir, meninggal di Jongaya pada tahun 1978.
b.Sultan Alauddin (1591-1638M) yang nama aslinya Karaeng Ma’towaya Tumamenanga merupakan raja pertama yang memeluk agama Islam dan kerajaan Makassar berkembang menjadi kerajaan maritim.
c. Setelah Sultan Alauddin wafat dilanjutkan Muhammad Said (1639-1653M)
a. Raja yang terkenal dari Kerajaan Gowa dan Tallo adalah Sultan Hasanuddin dengan julukannya Ayam Jantan dari Timur. Dengan prestasinya untuk memporak-porandakan kedudukan Belanda (VOC) dalam menguasai wilayah Makassar. Ini menyebabkan Belanda terpaksa mundur dari wilayah Makassar sebelum melakukan penyerangan besar-besaran.
E. METODE PEMBELAJARAN
Pendekatan Pembelajaran :
1. Model : Project Based Learning (PBJL)
2. Metode : Ceramah, Diskusi, dan Tanya Jawab.
F. MEDIA, BAHAN DAN SUMBER PEMBELAJARAN
1. Media : Laptop, LCD Proyektor, Alat peraga
2. Bahan dan Sumber : Buku SKI (Sejarah Kebudayaan Islam) Mts Kelas 9 hlm. 16-22
G. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN
|
Kegiatan |
Deskripsi |
Alokasi waktu |
|
Pendahuluan |
A. Orientasi B. Apersepsi Guru memberikan pernyataan dan pertanyaan seputar materi yang sebelumnya dan materi yang akan dipelajari saat itu C. Motivasi Siswa diberi penjelasan tentang manfaat mempelajari materi tentang sejarah kerajaan islam D. Pemberian Acuan · Guru mengkomunikasikan kontrak belajar serta sistem penilaian kepada siswa. · Guru memberikan gambaran dan menyampaikan tujuan pembelajaran mengenai adanya bahwa berdakwah adalah kewajiban setiap muslim.
|
10 menit |
|
Kegiatan Inti |
Mengamati - Peserta didik mengamati penjelasan dari guru mengenai sejarah kerajaan Islam di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Mempertanyakan - Peserta didik bertanya jawab tentang sejarah kerajaan Islam di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Mengeksplorasi - Peserta didik mencari informasi tentang sejarah kerajaan Islam di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. - Peserta didik mendiskusikan tentang sejarah kerajaan Islam di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Mengasosiasikan - Peserta didik menyimpulkan materi tentang sejarah kerajaan Islam di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. - Peserta didik menyampaikan hasil diskusi Mengkomunikasikan - Guru mengecek tingkat pemahaman peserta didik mengenai materi yang telah disampaikan |
25 menit |
|
Penutup |
1. Guru membuat simpulan tentang materi ajar secara bersama-sama. 2. Guru mengadakan evaluasi. 3. Peserta didik melakukan refleksi hasil pembelajaran 4. Guru menyampaikan materi yang akan dipelajari minggu berikutnya. 5. Bersama-sama menutup pembelajaran dengan do’a dan salam. |
10 Menit |
H. PENILAIAN
a. Teknik penilaian
1. Penilaian Kompetensi Pengetahuan (terlampir)
· Tes Tertulis
a) Pilihan ganda
b) Uraian/esai
2. Penilaian Kompetensi Keterampilan (terlampir)
· Portofolio / unjuk kerja
3. Penilaian Sikap (terlampir)
· Sikap yang dinilai antara lain:
- Arif dan bijaksana
4. Penilaian Spiritual (terlampir)
· Aspek pengamatan
b. KKM ( Kriteria Ketuntasan Minimal)
Aspek Penilaian :
|
Aspek Yang Dianalisis |
Kriteria Penilaian |
||
|
Kompleksitas |
Tinggi (1) |
Sedang (2) |
Rendah (3) |
|
Daya Dukung |
Tinggi (3) |
Sedang (2) |
Rendah (1) |
|
Intake Siswa |
Tinggi (3) |
Sedang (2) |
Rendah (1) |
|
Kompetensi Dasar / Indikator |
Kriteria Pencapaian Ketuntasan Belajar Siswa (KD/Indikator) |
Nilai KKM |
||
|
Kompleksitas |
Daya Dukung |
Intake |
|
|
|
1.1 Menghayati bahwa berdakwah adalah kewajiban setiap muslim |
3 |
2 |
2 |
2.8 |
|
2.1 Memiliki sikap istiqamah seperti dicontohkan oleh para tokoh penyebar Islam di Indonesia. |
3 |
1 |
2 |
6.7 |
|
3.1 Memahami sejarah kerajaan Islam di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi.
|
2 |
2 |
2 |
6.7 |
|
4.1 Menyajikan data tentang sejarah kerajaan Islam di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. |
2 |
2 |
2 |
6.7 |
|
Jumlah |
|
|
|
70 |
c. Remidial
Ø Remidial dapat diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai KKM maupun kepada peserta didik yang sudah melampui KKM.
Ø Guru memberi semangat kepada peserta didik yang belum mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal).
Ø Guru akan memberikan tugas bagi peserta didik yang belum mencapai KKM (Kriterian Ketuntasan Minimal), misalnya sebagai berikut.
- Guru menyampaikan pertanyaan kepada peserta didik akan hal-hal apa saja yang belum mereka pahami.
- Guru memberikan penilaian ulang untuk penilaian pengetahuan, dengan pertanyaan yang lebih sederhana.
d. Pengayaan
Ø Pengayaan diberikan untuk menambah wawasan peserta didik mengenai materi pembelajaran yang dapat diberikan kepada peserta didik yang telah tuntas mencapai KKM atau mencapai Kompetensi Dasar.
Ø Pengayaan dapat ditagihkan atau tidak ditagihkan, sesuai kesepakatan dengan peserta didik.
Ø Direncanakan berdasarkan materi pembelajaran yang membutuhkan pengembangan lebih luas misalnya
- Guru meminta peserta didik untuk melakukan studi pustaka (ke perpustakaan atau mencari di koran, majalah, dan browsing internet) untuk menemukan artikel yang berkaitan dengan materi.
- Hasil temuannya ditulis dalam laporan tertulis yang berisi rangkuman singkat dari artikel tersebut.
PENILAIAN PENGETAHUAN
Soal Pilihan Ganda
1. Pernyataan berikut ini yang cocok untuk menggambarkan kerajaan samudra pasai, kecuali…
a. Terletak di Lhoksemawe, Aceh utara
b. Merupakan kerajaan maritime dan perdagangan
c. Pernah mendapat kunjungan dari ibnu batutah pada 1345
d. Didirikan oleh Paramisora atau sultan iskndar syah
2. Pada tahun 674 M dipantai barat sumatera terdapat desa yang ditempati oleh orang islam dari arab yang bernama…
a. Desa Barus c. Desa Ngemplak
b. Desa Sumbergirang d. Desa Soditan
3. Sultan Alauddin Riayat Syah dapat menaklukan banyak kerajaan karena memperoleh bantuan dari…
a. Mesir, Arab Saudi, Persia
b. Abbessinia (Ethiopia), Mesir, Turki
c. Arab Saudi, Yaman, Persia
d. Turki, Persia, Zimbabwe
4. Sultan Alauddin Riayat Syah berhasil menaklukan banyak kerajaan setelah meminta bantuan dari negara Islam di timur tengah, salah satunya yaitu…
a. Siak c. Barus
b. Singasari d. Samudra Pasai
5. Berikut ini yang bukan raja dari kerajaan Samudera Pasai yaitu…
a. Sultan Suryanullah
b. Sultan Malik as-saleh
c. Abu Zain Malik Zahir
d. Sultan Muhammad Malik Zahir
Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar!
Essay !
1. Seorang laksamana dari mesir yang mendirikan kesultanan Samudra Pasai adalah?
2. Nama lengkap kerajaan Samudra Pasai adalah Samudra Aca Pasai, yang berarti?
3. Kitab apa yang menggambarkan tentang keadaan hubungan malaka dengan Samudra Pasai
4. Dalam versi lain, malaka berasal dari bahasa Arab “malqa” yang artinya?
5. Bagaimana keadaan sosial masyarakat di kerajaan Malaka?
|
Nomor |
Rubrik |
Skor |
|
1 |
Siswa dapat menyebutkan jawaban dengan baik dan benar. |
4 |
|
2 |
Siswa dapat menyebutkan jawaban dengan baik dan benar, Tapi kurang lengkap. |
3 |
|
3 |
Siswa dapat menyebutkan jawaban tapi salah sebagian besar. |
1 |
|
|
Skor maksimum |
8 |
Nilai = total skor perolehan x 100
Total skor maksimum
PENILAIAN KOMPETENSI KETRAMPILAN
· Portofolio / unjuk kerja
- Kliping tentang mengenai sejarah kerajaan islam di jawa, sumatera, dan sulawesi
- Kliping tentang bukti sikap / perbuatan real yang memahami dan tidak memahami sejarah kerajaan islam di jawa, sumatera, dan sulawesi
|
No |
Nama peserta didik |
Aspek yang dinilai |
skor |
Jumlah skor |
Nilai |
|
|
|
- Kesesuaian dan kelengkapan materi |
40 |
|
|
|
|
|
- Ketepatan waktu pengumpulan |
20 |
|
|
|
|
|
- Ketepatan dan kerapihan format kliping |
10 |
100 |
|
|
|
|
- Kepercayaan diri dalam presentasi |
30 |
|
|
PENILAIAN SIKAP
Arif dan bijaksana
Berilah tanda cek (v) pada kolom skor sesuai sikap arif dan bijaksana yang ditampilkan oleh peserta didik, dengan kriteria sebagai berikut :
Selalu, apabila selalu melakukan sesuai pernyataan (skor 4)
Sering, apabila sering melakukan sesuai pernyataan dan kadang-kadang tidak melakukan (skor 3)
Kadang-kadang, apabila kadang-kadang melakukan dan seringtidak melakukan (skor 2)
Tidak pernah, apabila tidak pernah melakukan (skor 1)
Nama Peserta Didik :
Kelas :
|
No |
Aspek Pengamatan |
Skor |
|||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
||
|
1 |
Tidak egois |
|
|
|
|
|
2 |
Tidak mudah terprovokasi |
|
|
|
|
|
3 |
Memikirkan baik dan buruknya sebeum mengambil keputusan |
|
|
|
|
|
4 |
Memberikan solusi yang tepat |
|
|
|
|
|
5 |
Memberi nasihat kepada teman yang berbuat salah |
|
|
|
|
|
|
Jumlah |
|
|
|
|
PENILAIAN SPIRITUAL
Petunjuk :
Lembaran ini diisi oleh guru untuk menilai sikap spiritual peserta didik.Berilah tanda cek (v) pada kolom skor sesuai sikap spiritual yang ditampilkan oleh peserta didik, dengan kriteria sebagai berikut :
Selalu, apabila selalu melakukan sesuai pernyataan (skor 4)
Sering, apabila sering melakukan sesuai pernyataan dan kadang-kadang tidak melakukan (skor 3)
Kadang-kadang, apabila kadang-kadang melakukan dan seringtidak melakukan (skor 2)
Tidak pernah, apabila tidak pernah melakukan (skor 1)
Nama Peserta Didik : ………………….
Kelas : ………………….
Tanggal Pengamatan : …………………..
Materi Pokok : …………………..
|
No |
Aspek Pengamatan |
Skor |
|||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
||
|
1 |
Berdoa sebelum dan sesudah melakukan sesuatu |
||||
|
2 |
Mengucapkan rasa syukur atas karunia Tuhan |
||||
|
3 |
Memberi salam sebelum dan sesudah presentasi |
||||
|
4 |
Menyatakan kekaguman atas kebesaran Tuhan |
||||
|
5 |
Merasakan kebesaran Tuhan saat belajar |
||||
|
Jumlah Skor |
|||||

Komentar
Posting Komentar