PERKEMBANGAN REMAJA BERDASARKAN ASPEK FISIK, KOGNITIF DAN PSIKOSOSIAL

 

PERKEMBANGAN REMAJA BERDASARKAN ASPEK FISIK, KOGNITIF DAN PSIKOSOSIAL

Disusun guna memenuhi Tugas Ujian Tengah Semester

 

Mata Kuliah                :  Psikologi Perkembangan

Dosen Pengampu           :  A. Tabiin M.pd

 

Disusun Oleh:

 

1.      Dwi Wulandari                 (2021116038)

 

Kelas D

 

FAKULTAS TARBIYAH & ILMU KEGURUAN

 

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

 

PEKALONGAN

 

2017

 

 

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadiran Allah Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas observasi yang berjudul Perkembangan Berdasarkan Aspek Fisik, Kognitif dan Psikososial.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan laporan hasil observasi ini masih banyak kekurangan baik dari segi penulisan maupun dalam isinya. Untuk itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran kepada semua pihak guna perbaikan untuk observasi dimasa yang akan datang.

Tak lupa pula kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan ini. Semoga laporan hasil observasi ini dapat memberi manfaat bagi para pembaca. Khususnya bagi mahasiswa-mahasiswi Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan untuk meningkatkan pengetahuan dan pengembangan ketrampilan kependidikan demi terciptanya pendidik professional.

                                                                                                                                                

 

 

 

 

 

 

                                                                                                     Pekalongan, 17 November 2017

                                      

 

                                                                                                                        Penyusun

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Berkembang  merupakan salah satu tahap dalam psikologi perkembangan. Perkembangan diartikan sebagai perubahan yang continue dan sistematis dalam diri seseorang sejak tahap konsepsi sampai meninggal dunia. Perkembangan berkaitan dengan kematangan secara biologis dan proses belajar. Demikian pula dalam perkembangan remaja.

Remaja adalah masa dimana seseorang mengalami beberapa hal yang membuatnya bimbang. Tidak sedikit remaja yang terlibat kasus-kasus yang tidak baik seperti pencurian, tawuran, keonaran dan sebagainya.  Hal tersebut disebabkan oleh kurangnya pendidikan dan perhatian yang diberikan orangtua terhadap anak ketika berada pada masa remaja.

Ketika berada dalam masa remaja, pengawasan orangtua terhadap anaknya mesti lebih ekstra. Hal ini dikarenakan remaja rentan terhadap kehidupan luar yang mudah memengaruhi perangainya.

 

B.  Rumusan Masalah

       1. Apa itu Remaja ?

       2. Bagaimana perkembangan fisik pada Remaja ?

3.  Bagaimana             perkembangan kognitif pada Remaja ?

4.  Bagaimana perkembangan psikososial pada Remaja ?

       

 

 

 

C.     Tujuan Penelitian

   1. Untuk mengetahui bagaimana perkembangan remaja.

   2. Untuk memudahkan guru dan orangtua dalam memahami remaja

   3. Untuk memahami karakteristik tertentu yang dialami remaja.

   4. Untuk mengetahui cara mengatasi masalah-masalah yang dihadapi ramaja.

 

 

 

 

D.    Metode Penelitian

Metode yang kami gunakan dalam penelitian ini yaitu:

1.      Observasi

Peneliti mengobservasi secara langsung bagaimana subjek melakukan kegiatan sehari-hari.

2.      Wawancara

Peneliti tidak hanya mewawancara subjek, tetapi juga mewawancara orangtua subjek untuk mendapatkan informasi yang lebih jelas.

Selain observasi dan wawancara, peneliti juga mengambil beberapa teori tentang perkembangan remaja dari buku-buku mengenai Psikologi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Remaja

Di negara barat, istilah remaja dikenal dengan “edolescence” yang berasal dari bahasa latin “edolescere” yang berarti tumbuh menjadi dewasa atau dalam perkembangan menjadi dewasa. Batas usia remaja yang umum digunakan para ahli adalah antara 12 sampai 21 tahun. Rentang waktu usia remaja ini di bedakan atas tiga, yaitu: 12 sampai 15 tahun = masa remaja awal, 15 sampai 18 tahun = masa remaja pertengahan, dan 18 sampai 21 tahun = masa remaja akhir. Sedangkan dinegara kita ada yang menggunakan istilah “akil balig”, “pubertas” dan yang paling banyak menyebutnya “remaja”.

Pada umumnya orang tua dan pendidik cenderung menyebut remaja dari pada remaja puber atau remaja adolesen. Bila ditinjau dari segi perkembangan biologis, yang dimaksud remaja ialah mereka yang berusia 12 sampai dengan 21. Usia 12 tahun merupakan awal pubertas bagi seorang gadis, yang disebut remaja kalau mendapat menstruasi (datang bulan) yang pertama. Sedangkan usia 13 tahun merupakan awal pubertas bagi seorang pemuda ketika ia mengalami masa mimpi yang pertama, yang tanpa disadarinya mengeluarkan sperma.

Bila ditinjau secara teoretis, masa remaja terdiri dari remaja puber dan remaja adolesen. Remaja puber itu sendiri masih dibagi-bagi lagi ke dalam awal pubertas, dan akhir pubertas, sedangkan remaja adolesen terdiri dari awal adolesen, adolesensi, dan akhir adolesen. Kemudian ada masa anak sekolah sebelum ia memasuki masa puber yang disebut masa pueral.[1]

Bagi kedua jenis kelamin, masa ini merupakan masa kedua jenis kelamin menjalin hubungan heterososial sebagai umumnya orang dewasa. Disini adalah saat dimana remaja laki-laki dan perempuan berhubungan untuk mengantisipasi kehidupan berkeluarga kelak. Sebagian besar laki-laki pada masa ini sudah melakukan petting berat yang menyertakan kontak genetic tanpa couitus, sedangkan pada remaja perempuan keterlibatan dalam kegiatan petting masih terbatas jumblahnya, walaupun eksperimen perilaku seksual pada remaja perempuan bisa saja terjadi sehubungan curiosity yang besar akal hal seksualitas. Misalnya, melalui perilaku masturbasi yang bisa terjadi dalam kisaran ringan sampai ekstrim.[2]

B.     Perkembangan Fisik

Perubahan-perubahan fisik merupakan gejala primer dalam pertumbuhan masa remaja, yang berdampak terhadap perubahan-perubahan psikologis. Pada mulanya, tanda-tanda perubahan fisik dari masa remaja terjadi dalam konteks pubertas, yaitu kematangan organ-organ seks dan kemampuan reproduksi bertubuh cepat. Pada umumnya anak perempuan mulai mengalami pertumbuhan cepat pada usia 10,5 tahun dan anak laki-laki pada usia 12,5 tahun, pertumbuhan cepat ini berlangsung kira-kira 2 tahun.

 

Berikut ini akan dijelaskan beberapa dimensi perubahan fisik yang terjadi selama masa remaja tersebut :

1.      Laki-laki

a.      Perubahan fisik

1.      Otot menguat, pertumbuhan tinggi dan besar badn pesat

2.      Tumbuh jakun

3.      Tumbuh bulu ketiak, kemaluan dan disekitar wajah atau dada

4.      Kulit berminyak dan mulai berjerawat

5.      Lebih banyak berkeringat dan mengeluarkan bau badan

6.      Suara menjadi besar

b.      Perubahan pada fungsi organ tubuh reproduksi

1.      Hormon testosterone mulai lebih banyak berperan terhadap organ reproduksi

2.      Organ reproduksi mulai memproduksi sperma yang bisa keluar melalui ejakulasi dan mimpi basah

3.      Penis/zakar dan pelir membesar

c.       Perubahan emosi/psikologi

1.      Timbul perhatian pada lawan jenis

2.      Ingin lebih diperhatikan dan diakui kedewasaannya

3.      Mulai lebih banyak memperhatikan penampilan diri

4.      Relatif lebih mudah terangsang secara seksual dan lain-lain

 

 

 

2.      Perempuan

a.      Perubahan fisik

1.      Tumbuh payudara/buah dada

2.      Putting mulai menonjol keluar

3.      Bentuk tubuh mulai berlekuk sekitar pinggang dan pinggul

4.      Tumbuh bulu disekitar ketiak dan sekitar kemaluan

5.      Kulit berminyak dan berjerawat

6.      Lebih banyak berkeringat dan mengeluarkan bau badan

b.      Perubahan pada fungsi organ reproduksi

1.      Hormon estrogen dan progesterone mulai lebih banyak banyak berperan terhadap organ reproduksi

2.      Mulai mengalami haid/menstruasi setiap bulan

3.      Indung telur membesar

4.      Dari vagina keluar cairan putih agak kental

c.       Perubahan emosi/psikologi

1.      Menjadi lebih perasa/sensitive

2.      Ingin lebih diperhatikan

3.      Mulai lebih banyak memperhatikan penampilan diri

4.      Timbul perhatian pada lawan jenis

5.      Relatif mudah terangsang secara seksual dan lain-lain.[3]

 

 

 

 

 

C.    PERKEMBANGAN KOGNITIF

1.       Tahap Perkembangan Kognitif Remaja

Perkembangan kognitif remaja membahas tentang perkembangan remaja dalam berfikir (proses kognisi/proses menegetahui). Menurut J.J. Piaget, remaja berada pada tahap operasi formal, yaitu tahap berfikir yang dicirikan dengan kemampuan berfikir secara hipotesis, logis, abstrak, dan ilmiah. Pada usia remaja, operasi-operasi berpikir tidak lagi terbatas pada obyek-obyek konkrit seperti usia sebelumnya, tetapi dapat pula dilakukan pada proposisi verbal ( yang bersifat abstrak) dan kondisi hipotetik (yang bersifat abstrak dan logis).

Menurut Piaget perkembangan kognitif remaja terbagi dalam empat tahap, yaitu:

a.       Tahap sensorimotor (0-2 tahun)

Manusia mengetahui dunia melalui aksi-aksinya terhadap lingkungannya, seperti menyedot, meraih, mengikuti arah dll.

b.      Tahap praoperasional (2-7 tahun)

Anak-anak mengekploitasi kemampuan yang baru dicapainya serta mengembangkannya.

c.       Tahap operasi konkrit (7-11 tahun)

Anak-anak mulai mampu menggunakan operasi-operasi berpikir karena anak telah mencapai struktur-struktur  logikmatematik.

d.      Tahap operasi formal (11 tahun keatas atau awal remaja hingga dewasa)

Operasi-operasi berpikir tidak lagi terbatas pada obyek-obyek konkrit, tetapi dapat pula pada proposisi verbal dan kondisi hipotetik.[4]

2.       Kemampuan Kognitif Remaja

Berbagai penelitian selama dua puluh tahun terakhir dengan menggunakan berbagai pandangan teori juga menemukan gambaran yang konsisten dengan teori piaget yang menyimpulkan bahwa remaja merupakan suatu periode dimana seseorang mulai berpikir secara abstrak dan logik. Berbagai penelitian menunjukan adanya perbedaan yang konsisten antara kemampuan kognitif anak-anak dan remaja. Dibandingkan anak-anak, remaja memiliki kemampuan lebih baik dalam berfikir hipotesis dan logis. Remaja juga lebih mampu memikirkan beberapa hal sekaligus bukan hanya satu, dalam satu saat dan konsep-konsep abstrak, remaja juga dapat berfikir tentang proses berfikirnya sendiri, serta dapat memikirkan hal-hal yang tidak nyata, sebagaimana hal-hal yang nyata untuk menyusun hipotesa atau dugaan.

Menurut Piaget, pemikiran operasional formal berlangsung antara usia 11 sampai 15 tahun. Pemikiran operasional formal lebih abstrak, idealis, dan logis dari pada pemikiran operasional konkret. Piaget menekankan bahwa remaja terdorong untuk memahami dunianya karena tindakan yang dilakukannya penyesuaian biologis. Secara lebih nyata mereka mengaitkan suatu gagasan dengan gagasan lain.

3.   Perubahan Perkembangan Kognitif Remaja

Ada 5 perubahan perkembangan kognitif remaja, yaitu :

1.   Remaja sudah bisa melihat ke depan (future) ke hal-hal yang mungkin, termasuk mengerti keterbatasannya dan memahami realita.

2.   Remaja mampu berpikir abstrak. Kemampuan ini berdampak dan dapat diaplikasikan dalam proses penalaran dan berpikir logis.

3.   Remaja mulai berpikir lebih sering tentang berpikir. Berpikir itu sendiri biasa dikenal dengan istilah metacognition, yaitu monitoring tentang aktivitas kognitifnya sendiri selama proses berpikir menjadikannya introspektif, terkait dengan adolescence egocentrism.

4.   Pemikirannya lebih multidimensional dibandingkan singular karena mampu melihat dari berbagai perspektif dan lebih sensitif pada kata-kata sarkastik, sindiran “double entendres”.

5.   Remaja mengerti hal-hal yang bersifat relatif, tidak selalu absolute dan sering muncul saat remaja meragukan sesuatu dan ditandai dengan seringnya berargumentasi dengan orangtua terutama tentang nilai-nilai moral.[5]

D.  Perkembangan Psikososial

Pencarian Identitas diri: 

            Tugas utama remaja menurut Erikson adalah melakukan konfrontasi ‘krisis’ dari identity cs identity confusion - dimana remaja sense diri yang kuat, termasuk merasa dihargai dalam masyarakat.

Dalam mencari jati diri melalui lingkunganya, remaja cenderung berupaya menemukan tokoh identifikasi dari lingkungan jenis kelamin yang sama tetapi yang memiliki usia sedikit lebih tua. Jika telah menemukan tokoh identifikasinya, tokoh ini cenderung lebih diikuti dan bahkan lebih sering dituruti nasihatnya daripada orangtuanya. Melihat masa remaja sangat potensial dan dapat berkembang ke arah positif  maupun negative maka intervensi edukatif dalam bentuk pendidikan, bimbingan maupun pendampingan sangat diperlukan untuk mengarahkan perkembangan potensi remaja tersebut agar berkembang kearah postif dan produktif. Intervensi edukatif harus sejalan dan seimbang, baik dari pihak keluarga atau orangtua, sekolah, maupun masyarakat. Kerja sama yang baik antara ketiga komponen ini harus dijalin sebaik-baiknya agar secara simultan dapat mencegah remaja berkembang kearah negative dan mendorong remaja berkembang ke arah positif dan produktif.

Hoffman mengemukakan bahwa ada tiga pola dalam membimbing perkembangan hubungan sosial remaja, yaitu pola asuh bina kasih (induction), pola asuh lepas kasih (love withdrawal), dan pola asuh unjuk kuasa (power assertion).

Dengan pola asuh bina kasih berarti segala keputusan dan perlakuan terhadap remaja senantiasa dibarengi dengan alasan rasional. Dengan pola asuh lepas kasih berarti kasih sayang yang diberikan kepada remaja akan ditarik untuk sementara waktu ketika remaja berperilaku kurang baik dan baru dikembalikan lagi kasih sayang itu ketika remaja sudah menunjukkan perilaku yang baik. Dengan pola asuh unjuk kuasa berarti memaksakan segala sesuatu untuk dipatuhi dan dilaksanakan oleh remaja. Berdasarkan penelitian mendalam yang dilakukan oleh Hoffman (1989), like (1993), dan sarijanattib(1999) menunjukan bahwa pola asuhnbina kasih adalah yang paling efektif untuk membimbing perkembangan hubungan sosial remaja.[6]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

IDENTITAS SUBJEK

1.      Subjek Utama

Nama                           : Siti Syarifah Azizah

Tempat, tanggal lahir  : Tanggerang, 15 September 2003

Kelas                           : IX MTS

Sekolah                       : Madrasah Tsanawiyah Ribatul Mutaalimin

 

2.      Orangtua

Nama                           : Slamet Suhadi

Tempat, tanggal lahir  : Jakarta, 03 febuari 1974

Pekerjaan                     : Wiraswasta

 Tempat tinggal           : Komp. Kopti No. 42 Semanan Kopti RT/RW: 11/09

   Jakarta barat

Pendidikan Terakhir    : SMA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Setelah melakukan penelitian terhadap remaja yang berusia empat belas tahun, yaitu siswa kelas IX Madrasah Tsanawiyah Pekalongan. Terdapat sesuatu yang menjadi hal lumrah dari dalam dirinya. Ditinjau dari aspek fisik, semenjak menginjak usia remaja, Ia sudah mengalami perubahan-perubahan seperti;  tinggi dan berat badan, proporsi tubuh, pubertas, ciri-ciri seks primer yang ditandai dengan menstruasi yang sudah Ia alami sejak berusia 13 tahun, ciri-ciri seks sekunder yang ditandai dengan bentuk tubuh seperti pinggul yang membesar dan suara yang semakin halus.

Ditinjau dari segi kognitif, Ia mempunyai daya tangkap yang cukup baik dalam menyerap pelajaran atau ilmu-ilmu yang baru. Sang Ibu mengaku, buah hatinya mudah dalam menyerap pelajaran karena sejak kecil Ia sudah diberikan stimulus untuk bisa memahami sesuatu dengan baik. Seperti halnya permainan-permainan edukatif yang diberikan Ibu untuk merangsang otaknya dalam berpikir. Contohnya, ular tangga atau semacam permainan monopoli islami dan sebagainya. Jadi, kemampuan kognitifnya yang baik itu ditentukan oleh bagaimana orangtua mendidik anak sejak kecil dengan cara yang baik. Permainan edukatif yang diberikan Ibu sejak kecil membuahkan hasil yang baik ketika Ia remaja. Prestasinya yang baik dalam bidang akademik dibuktikan dengan lomba-lomba yang pernah Ia ikuti sejak duduk di bangku SD, masuknya Ia ke kelas unggulan ketika MTS, dan aktifnya Ia di dalam kegiatan Pramuka di Sekolahnya.

Berdasarkan aspek terakhir, yaitu aspek psikososial, Dalam menjalani masa remajanya, Ia pun masih sama seperti remaja awal pada umumnya. Menjalankan kegiatan dan pandai bergaul bersama-sama temannya dengan baik. Karena Ia masih berada pada tahap remaja awal,  Ia masih berada juga pada tahap awal pencarian identitas diri, yaitu masih adanya kebimbangan dan keraguan dalam memilih pekerjaan, pemakaian nilai dan norma, juga kepuasan tersendiri yang menjadi sesuatu yang berbeda. Ia menjalankan dan mencari identitas dirinya seiring berjalannya waktu. Hampir sama dengan remaja pada umumnya, memilih sesuatu untuk kehidupan yang akan datang, pasti banyak yang mengalami kebimbangan. Dapat dikatakan bahwa, krisis yang ada pada dirinya adalah dalam pencarian identitas diri. Karena, pencarian identitas diri memerlukan waktu yang tidak sebentar. Ia terus belajar untuk memahami bagaimana kehidupan yang lebih baik kedepannya, yang dapat membuatnya memiliki kepuasan dalam menjalani kehidupan sebagai remaja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

WAWANCARA

Pada pukul 10:30 di MTS Ribatul Muta’alimin, saya melalukan wawancara dengan siswi kelas IX yang bernama Siti Syarifah Azizah. Adapun hal hal yang diwawancarai , yaitu mengenai Perkembangan Fisik, Perkembangan Kognitif, dan perkembangan Psikososialnya

Saya: Selamat pagi dek? (saya bersalaman dengan Adik Syarifah Azizah)

Siswi: Selamat pagi juga kak…

Saya: Saya Mahasiswi dari perguruan tinggi IAIN Pekalongan, saya diberi tugas untuk matakuliah Psikologi Perkembangan, di dalam hal ini saya juga ingin mengetahui perkembangan-perkembangan adik dengan mewawancarai adik

Siswi: iya kak boleh silakan dengan senang hati

Saya: baiklah dek, antara dulu dan sekarang apakah ada perubahan dalam diri fisik adik?

Siswi: tentu banyak kak, mulai dari tinggi badan, berat badan dan lainnya. Dulu berat badan saya waktu usia 12tahun 31kg dengan tinggi badan sebesar 137 cm tapi sekarang usia 14tahun berat badan menambah jadi 35kg dengan tinggi badan 152cm kak.

Saya: kemudian adik sudah mengikuti lomba apa saja selama ini dan prestasi apa saja yang sudah adik dapatkan?

Siswi: Alhmdulilah waktu Sekolah Dasar mendapatkan Juara Satu Ujian Nasional dan saya pernah mendapatkan Juara satu lomba Stand Up comedy.

Saya: Wah keren sekali dik. Lalu jika kamu mempunyai permasalahan kamu lebih senang bercerita kepada orangtua atau teman sebaya kamu dik?

Siswi: Jujur saya lebih suka cerita sama teman sebaya saya kak karna satu pikiran dan satu pendapat.

Saya: Oh seperti itu ya dik. Ya sudah terimakasih atas waktu yang telah adik berikan.

Siswi: Iya kaka sama sama

 

 

BAB V

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Kehidupan manusia tidak terlepas dari perkembangan. Mulai dari tahap konsepsi sampai meninggal. Selama tahap itu, juga dilalui masa remaja. Di dalam masa remaja berkembang aspek-aspek fisik, kognitif dan psikososial yang berbeda dari masa anak-anak.

Ketika remaja, seseorang mampu berpikir lebih baik. Memikirkan lebih dari satu hal dalam waktu yang bersamaan. Hal itu menyebabkan, remaja pandai dan mudah menyerap pelajaran dan ilmu-ilmu baru. Pelajaran ini yang jika dikembangkan oleh remaja akan berbuah manis pada masa dewasa. Itu alasan mengapa munculnya kalimat “Jangan sia-siakan waktu muda”. Oleh karena itu, masa remaja baik digunakan untuk belajar dan belajar agar dapat memahami bagaimana kehidupan dan tidak terjadi kegagalan dalam pencarian identitas diri.

 

B.     Saran

-         Manfaatkan masa remaja dengan baik.

-         Hindarkan diri dari pergaulan-pergaulan yang membawa dalam kerugian.

-         Belajar dengan sebaik-baiknya agar mencapai sukses di masa depan.

-         Berbuat baiklah kepada sesama, guna mencegah terjadinya perkelahian dan pertikaian.

-         Menjadi pribadi yang baik dan bermanfaat bagi nusa dan bangsa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Zulkifli L.2002. Psikologi Perkembangan.Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

 

Sawitri Supardi Sadarjoen.2005. Kasus Gangguan Psikoseksual,.Bandung: PT. Refika Aditama.

Sugeng Sholehudin.2008. Psikologi Perkembangan dalam Perspektif Pengantar. Pekalongan: Stain Pekalongan Press.

http://khildaamaliyah.wordpress.com/2011/05/21/psikologi-perkembangan-remaja/ diakses pada tanggal 16 november 2017, pukul 20:00 WIB.

http://aurora11.blogspot.com/2014/01/perkembangan-kognitif-remaja_9.html, diakses pada 16 November 2017, Pukul 19:50 WIB.

Mohammad Ali dan Mohammad Asrori. 2004. Psikologi Remaja. Jakarta: PT. Bumi Aksara.



[1] Zulkifli L, Psikologi Perkembangan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 63-64.

[2] Sawitri Supardi Sadarjoen, Kasus Gangguan Psikoseksual, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2005), hlm. 112.

[3] Sugeng Sholehudin, Psikologi Perkembangan dalam Perspektif Pengantar, (Pekalongan: Stain Pekalongan Press: 2008), hlm. 141-143.

[4] http://aurora11.blogspot.com/2014/01/perkembangan-kognitif-remaja_9.html, diakses pada 16 November 2017, Pukul 19:50 WIB.

[5] http://khildaamaliyah.wordpress.com/2011/05/21/psikologi-perkembangan-remaja/ diakses pada tanggal 16 november 2017, pukul 20:00 WIB.

[6] Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, Psikologi Remaja, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2004), hlm. 99-104.

Komentar

Postingan Populer